Home Perencanaan Menurut Sri Mulyani, Ini Dia Cara Indonesia Jadi Negara Maju Seperti Korsel

Menurut Sri Mulyani, Ini Dia Cara Indonesia Jadi Negara Maju Seperti Korsel

by Lara Nifa

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengemukakan pendapatnya bahwa negara kita ini dalam 25 tahun ke depan bisa berpotensi menjadi negara maju seperti Korea Selatan, Jepang maupun Singapura. 

“Untuk sekarang, negara kita ini masih berada di kelompok negara yang berpendapatan menengah. Akan tetapi, jika melihat dari pertumbuhan pendapatan per kapitanya, sebenarnya kita semakin meningkat dan bisa mencapai negara dengan pendapatan menengah ke atas,” ujarnya di akun media sosial miliknya, Sabtu (28/11/20).

Ia menyampaikan untuk bisa mencapainya, ada syarat yang harus dipenuhi. Syarat inilah yang nantinya akan menjadi tugas pemerintah untuk melakukan berbagai perbaikan agar Indonesia mampu seperti Korea Selatan. Simak penjelasan Sri Mulyani di bawah ini terkait cara yang dapat dilakukan Indonesia agar menjadi negara maju layaknya Korea Selatan !

Beginilah Caranya Supaya Indonesia Jadi Negara Maju  

Sri Mulyani mengatakan syarat paling penting dan utama yaitu adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Artinya, Indonesia harus memiliki orang-orang yang ahli dan berkompeten.

“Jika Anda nonton drama korea itu, Anda lihat Korsel sudah maju kan. Banyak gedung-gedung tinggi. Infrastrukturnya juga bagus. Indonesia pun bisa dan berpotensi besar untuk terus maju. Tapi, syaratnya yakni pada produktivitas manusianya,” katanya dalam Rakornas Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), Kamis (16/6/2022).

Inilah yang sedang difokuskan pemerintah untuk menghasilkan SDM dengan daya saing berkualitas. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengalokasikan APBN untuk program jaminan sosial, pendidikan dan juga kesehatan.

Setiap tahunnya pemerintah menetapkan anggaran yang sangat besar untuk pendidikan yakni sebesar 20% dari total belanja APBN. Dan untuk tahun 2022, pemerintah menggelontorkan anggaran pendidikan kurang lebih 620 triliun rupiah.

Kemudian anggaran untuk kesehatan naik dari 5% menjadi 9,4% dari total belanja APBN yakni sebesar 255,3 triliun rupiah. Kenaikan ini dilakukan sebagai tindakan preventif dari Covid-19. Pemerintah tidak akan memangkas sedikitpun alokasi anggaran pada ketiga sektor itu, justru sebaliknya. Anggaran terus ditambah oleh pemerintah, seperti halnya untuk sektor kesehatan.

“Ketiga hal tersebut itu sangat berpengaruh pada kualitas SDM kita,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani berharap para pejabat daerah turut serta membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM di masyarakat. Karena masyarakat mendapatkan anggaran tersebut langsung dari daerah, misalnya melalui gaji guru maupun honorer, serta bantuan-bantuan untuk para siswa yang ada di daerah.

“Ini yang harus kita perhatikan. Karena dari mereka lah kita jadi tahu apakah anak didik kita, masyarakat kita mampu belajar, sehat atau sakit, produktivitasnya bagaimana, meningkat tidak. Dan apakah anak-anak bisa jadi generasi yang terus mengejar kemajuan. Nah inilah yang menjadi persoalan penting,” pungkasnya. 

Korea Selatan Pernah Terpuruk

Kondisi perekonomian Korea Selatan pun pernah memburuk dalam kurun waktu yang cukup lama. Sekitar tahun 1950-an Indonesia dan Korea Selatan sama-sama masuk dalam daftar negara paling miskin di dunia. 

Di pertengahan tahun 1970-an, Indonesia berstatus negara dengan pendapatan rendah sedangkan Korsel naik statusnya jadi negara dengan pendapatan menengah. 

Menurut Sri Mulyani, Korea Selatan dari segi perekonomian sebenarnya hampir sama dengan Indonesia. Ia menuturkan bahwa Korea Selatan juga sempat mengalami krisis seperti Indonesia di tahun 1998-2008.

“Korsel dulu sama halnya dengan Indonesia, sama-sama miskin. Kelaparan terjadi dimana-mana, tapi Korsel buat perlombaan ekspor di setiap daerah,” ujar Sri Mulyani.

Akan tetapi, negara tersebut akhirnya bisa bangkit kembali dan kini masuk dalam salah satu jajaran negara yang maju. 

Ada hal yang menarik dari cara Korsel membangkitkan ekonominya di tahun 70-an yaitu melakukan ekspor kulit tikus. Pada awalnya, cara ini dilakukan untuk menangani masalah hama tikus.   

Pemerintah Korsel sampai mengadakan perlombaan untuk menangkap tikus untuk mengekspor kulitnya. Lantas, kulit tikus tersebut diproduksi menjadi jaket kulit. Korsel mampu mengubah suatu permasalahan menjadi peluang yang menjanjikan.

Kemajuan Korsel terbukti dengan masalah hama yang pernah dihadapinya dan justru dijadikannya sebuah peluang untuk mengembangkan ekspor. Ini harus menjadi contoh bagi Indonesia untuk mengedepankan ekspor dibandingkan impor.

Meskipun di tahun 90-an, Indonesia naik status menjadi negara dengan pendapatan menengah namun masih tetap tertinggal dari Korea Selatan. Dan hingga saat ini Indonesia masih saja stagnan pada posisi tersebut. 

Hal ini bisa jadi karena Indonesia terlalu fokus mengedepankan sumber daya alamnya saja. Sementara Korsel sudah melakukan berbagai inovasi berbasis riset dan memiliki SDM yang berkualitas dibandingkan Indonesia.

Sumber daya alam Indonesia yang melimpah ruah dibandingkan Korsel, tak lantas menjadikan negara ini maju dan kaya. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus tetap diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni. Sehingga bisa dimanfaatkan dengan tepat dan memunculkan peluang-peluang yang baru. 

Related Posts