Home Bisnis dan Usaha Garuda Indonesia Batal Bangkrut karena PKPU

Garuda Indonesia Batal Bangkrut karena PKPU

by Lara Nifa

Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU Garuda Indonesia telah masuk ke babak akhir. Maskapai kebanggaan Indonesia ini dengan berhadapan dengan keputusan akhir guna memilih metode pembayaran utangnya selama ini. 

Pada 17 Juni kemarin, Garuda Indonesia telah dijadwalkan mengadakan voting dengan para kreditor yang mulai dari bank, lessor sampai UMKM. Berikutnya pengumuman keputusan tersebut telah dilaksanakan pada 20 Juni 2022. 

Irfan Setiaputra selaku Direktur Utama dari Garuda Indonesia mengungkapkan sebelumnya sudah membuat DPT (Daftar Piutang Tetap). Hal tersebut berisi mengenai daftar perusahaan dan juga jumlah hutang yang perlu ditanggung oleh maskapai tersebut. Nasib untuk metode pembayaran utang akan diputuskan dalam hitungan hari. 

Dikutip dari website PKPU Garuda Indonesia, nilai utang yang ada pada DPT hingga Rp 142 triliun. Daftar tersebut dibagi menjadi tiga kategori yaitu non profen, profen dan lessor. Detailnya, untuk piutang kategori lessor senilai Rp 104,37 triliun, DPT Preferen sebanyak Rp 3,95 triliun dan DPT non preferen sebesar Rp 34,09 triliun. 

Angka yang ada ini sudah melalui tahap konversi untuk nilai utang dengan mata uang asing. Dikutip dari daftar tersebut, tim pengurus PKPU baru mencatat sekitar 501 entitas. Terdiri atas 355 non preferen, 23 preferen dan 123 lessor. 

“Dengan demikian, kami tim pengurus PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk mengungkapkan daftar piutang tetap dari PT Garuda Indonesia tertanggal 14 Juni 2022,” dikutip dari website Garuda Indonesia, Minggu (26/6/22). 

Selanjutnya, Irfan juga mengatakan proses PKPU perusahaan yang ia pimpin tersebut sangat kompleks. Terlebih dengan nilai utang yang sangat besar, ditambah dengan jumlah perusahaan yang tidak sedikit. ‘’

Meskipun begitu, ia mengaku pada negosiasi yang sudah dijalankan kepada seluruh pihak, hasilnya cukup positif. Sehingga, ia sangat optimis memperoleh hasil yang bagus pada voting besok. 

“Overall saya melihatnya positif kok, wajar jika dia ingin memaksimalkan return,” jelasnya. 

Selain itu, ia juga mengaku ini bisa menjadi usaha yang cukup menguras energi guna membangun negosiasi yang dapat menguntungkan untuk Garuda Indonesia. “Saya tetap menganggap jika ini usaha konstruktif,” tambahnya. 

Optimis untuk Voting 

Berikutnya, Irfan juga mengaku sangat optimis untuk voting yang akan dilakukan pada 17 Juni bisa berjalan dengan lancar. Ia mengaku yakin jika akan ada sebanyak 50% dari jumlah kreditor yang setuju untuk jalan damai. 

Sebelum itu, Irfan sudah membagikan proposal perdamaian ke semua kreditor Garuda Indonesia. Isinya tentang berbagai langkah yang nantinya akan ditempuh setelah Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). 

“Hari ini kita confidence level kita lebih dari 50% yang dukung kita dari jumlah kreditor,” ungkapnya pada wartawan, Kamis (16/6). 

Sebagai informasi, acara voting kreditor Garuda Indonesia ini akan berpengaruh pada nasib maskapai penerbangan tersebut kedepannya. Berikutnya, keputusan akan diumumkan pada 20 Juni, sesuai dengan tenggat waktu terakhir yang sudah disepakati. 

Walaupun begitu, ia mengungkapkan jika untuk pengadilan dapat memutuskan langkah perdamaian, dibutuhkan sekitar 67% kreditor yang setuju untuk voting tersebut. Sehingga masih ada selisih 17% dengan opini Irfan yaitu di angka 50%. 

“Pada dasarnya jika confidence ini terus meningkat, insyaAllah semuanya dapat dilalui,” tambahnya. 

Hasil Negosiasi 

Lebih lanjut, menyebutkan secara menyeluruh hasil dari negosiasi antara pihaknya dan juga kreditor memperlihatkan tren yang positif. Walau ia tidak menepis ada berbagai diskusi yang berjalan cukup alot. 

Ia menjelaskan beberapa kreditor telah memberikan tanda-tanda akan mendukung saat pelaksanaan voting esok hari. Sehingga, hal tersebut bisa mempengaruhi tingkat kepercayaan dirinya. 

“Seperti yang selalu saya sampaikan, hasil negosiasi kami ini akan positif,” ungkapnya. 

Perlu Anda ketahui bahwa secara aturan yang telah berlaku, Garuda Indonesia mempunyai waktu selama 270 hari sejak PKPU tersebut ditetapkan pada 9 Desember 2021 kemarin. Tetapi, Irfan memutuskan pada 20 Juni 2022 merupakan batas waktu terakhir PKPU ini. 

“Kan semuanya sudah sepakat, kita efisiensi waktu. Kedua belah pihak, kreditor dan kami kan semakin cepat diberikan kepastian semakin bagus,” tambahnya. 

Garuda Indonesia sendiri tengah terlilit utang senilai USD 9,8 atau sekitar Rp 140 triliun. Karena hal tersebutlah pihak Garuda Indonesia akhirnya mengurangi jumlah rute yang tadinya sebanyak 237 menjadi 140 rute saja. Selain itu, Garuda Indonesia juga menurunkan tipe pesawat dari 13 menjadi 7 jenis untuk simplifikasi operasional serta menurunkan jumlah pesawat Garuda dan Citilink yang tadinya berjumlah 202 pada 2019 sekarang menjadi 134 saja. 

Nah, itu dia ulasan mengenai Garuda Indonesia yang sedang mengalami krisis. Semoga permasalahan utang piutang tersebut bisa terselesaikan dengan baik dan perusahaan bisa kembali stabil seperti sedia kala.

Related Posts